Ma’had UNIA Prenduan – Tak ada suara gurauan, tak ada denting piring. Selasa malam (16/12), tepat pukul 21.40 WIB, Asrama Putra Universitas Al-Amien (UNIA) Prenduan mendadak senyap. Di bawah temaram lampu, 85 mahasantri duduk bersila secara tertib di depan kamar masing-masing.
Malam itu, “Renungan Malam” resmi dimulai sebagai program baru. Tanpa panggung mewah atau seremoni birokratis yang membosankan, keheningan asrama langsung dipecah oleh suara karismatik dari pengeras suara. Rekaman nasihat almarhum KH Idris Jauhari mengalun, membawa pesan tajam tentang satu hal, Kepribadian.
“Tidak ada yang bisa membuat kita sukses, kecuali diri kita sendiri dan Allah. Guru atau orang tua hanyalah pelengkap,” petuah Kiai Idris yang terdengar khidmat disimak para mahasantri. Pesan itu seolah “menampar” kesadaran santri bahwa iman dan tauhid yang kokoh harus berwujud pada kemandirian, bukan ketergantungan pada nasib atau orang lain.
Pihak DKM Bidang Kesantrian dan Rayon memang sengaja memilih waktu menjelang tidur. Saat raga lelah, hati biasanya lebih terbuka menerima siraman nasehat. Namun, santri dilarang hanya menjadi pendengar pasif. Mereka mencatat, merangkum poin-poin.
Nasihat Kiai Idris sangat teknis; beliau membedah bagaimana ilmu, harta, hingga jabatan barulah disebut barokah jika memenuhi tiga syarat: diamalkan, dikembangkan, dan disebarkan. Inilah yang wajib dicatat santri sebagai bekal muhasabah harian.
Ritual spiritual ini ditutup dengan dzikir kolektif. Suara lantunan Al-Fatihah, Ayat Kursi, hingga Shalawat Fatih bergemuruh rendah, menciptakan suasana magis di lingkungan asrama. Kemudian Sebelum boleh merebahkan diri ke kasur, buku catatan wajib disetor ke Musyrif Kamar untuk divalidasi. Lalu dikembalikan setelah selesai diberi catatan.
Tepat pukul 22.00 WIB, sesi berakhir. Mahasantri kembali ke kamar dengan tenang. Mereka tidak hanya membawa rasa kantuk, tapi memikul pesan besar untuk menjadi As-Saleh wal-Musleh: menjadi orang baik sekaligus mampu memperbaiki lingkungan. Dimulai dari diri sendiri, tepat sebelum mata terpejam.
