UNIA Prenduan– Hiruk pikuk perayaan tahun baru dengan bising terompet dan letupan kembang api seolah tak berlaku di kawasan Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA). Seperti tahun-tahun sebelumnya, kampus berbasis pesantren ini tetap memegang teguh tradisinya: hening dari hura-hura, namun riuh dengan doa.
Selasa (31/12) malam, Lantai III Gedung Rektorat UNIA justru dipadati 258 santri Program Intensif (Ma’had). Mereka menggelar kegiatan “UNIA Bersholawat” sebagai antitesis dari budaya perayaan tahun baru pada umumnya. Bagi mahasiswa yang tinggal di asrama ini, tidak ikut merayakan tahun baru masehi ala budaya populer bukanlah sebuah keterpaksaan, melainkan kultur yang sudah mendarah daging.
KH. Muhammad Fikrie Husain, M.A., selaku pengasuh UNIA Prenduan, menekankan pentingnya esensi acara tersebut dengan menjelaskan bahwa kegiatan selawat tersebut bukan sekadar bentuk pengalihan, melainkan sarana untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Beliau menegaskan keinginan agar momen penutupan tahun tidak dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan upaya mengetuk pintu langit melalui lantunan selawat.
“Man shalla ‘alayya sholatan waahidatan, shallallaahu ‘alayhi ‘asyran”

Suasana malam itu berlangsung syahdu. Penampilan grup hadroh Jauhar dari TMI Al-Amien Prenduan mengiringi lantunan sholawat yang diikuti serentak oleh seluruh peserta. Meski jauh dari keluarga, kebersamaan khas santri di asrama membuat suasana tetap hangat.
Bagi mahasiswa baru, momen ini menjadi pengalaman yang meneguhkan niat mereka menuntut ilmu. Lailatus Syafaah, salah satu peserta, mengaku sudah menyadari konsekuensi tinggal di lingkungan pesantren saat momen pergantian tahun.
“Sejak awal masuk Ma’had, udah tahu di sini beda. Kalau di luar orang sibuk bakar jagung, kami ‘bakar’ semangat lewat sholawat. Malam ini rasanya lebih tenang, kumpul satu angkatan, jadi lebih solid,” ujar mahasiswa semester awal tersebut.

Acara ditutup dengan doa bersama menjelang malam. Melalui kegiatan ini, UNIA kembali membuktikan bahwa kebahagiaan menyambut tahun baru tidak harus identik dengan kembang apa, melainkan bisa dirayakan dengan shalawat dan penuh kesadaran. (AJMI)
